Batas Antara Kita dan Mereka Adalah
Shalat
إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ
فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا
شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ
اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ
رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي
تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ
فَوْزاً عَظِيماً
أما بعد
Amma ba’du :
Bertakwalah kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala dengan taqwa yang sebenar-benarnya. Sesungguhnya
manusia kini tengah terjebak di dalam timbunan kesibukan dunia yang
materialistik bersama aneka macam problema jiwa dan ketegangan syaraf yang
ditimbulkan oleh nafsunya, mereka sangat membutuhkan sesuatu yang bisa
menghibur perasaannya. Melepaskan beban penderitaannya, dan membangkitkan
perasaan tentram di dalam hati dan perasaan tenang di dalam jiwa, jauh dari
kesulitan, kegelisahan, dan keresahan. Mana mungkin manusia bisa menemukan hal
itu di luar naungan Islam dan ibadah-ibadahnya yang agung, yang merupakan
terapi rohani yang mutlak ampuh dan tidak tergantikan oleh terapi materi.
Ketahuilah, bahwa ibadah yang memiliki pengaruh terbesar dalam hal itu ialah
shalat, baik shalat fardhu maupun shalat sunnah.
Allah berfirman :
يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا
اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ
“Hai orang-orang yang beriman
jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.” (QS.Al-Baqarah :153)
وَأَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ
تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ
“Dan dirikanlah
shalat.Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan
mungkar.” (QS. Al-Ankabut :45)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam pernah bersabda kepada Bilal radiyallahu ‘anhu :
“Bangkitlah hai Bilal, hiburlah
kami dengan shalat.’’ ( HR.Ahmad, 5:371, dan Abu Daud, 4986 )
“Dan setiap kali dirundung
masalah, beliau selalu melaksanakan shalat.” (HR. Ahmad, 5:388 dan Abu
Daud, 1319 )
Hal itu tidak lain karena shalat adalah
komunikasi antara hamba dengan tuannya. Berdiri di hadapan Allah Subhanahu
wa Ta’ala dalam shalat memiliki efek yang sangat besar dalam memperbaiki
jiwa manusia,bahkan seluruh masyarakat manusia.
Hanya, shalat seperti apakah yang
dapat mempererat hubungan komunikasi antara makhluk dan penciptanya? shalat
seperti apakah yang dapat memberikan efek yang positif di dalam diri pelakunya,
sehingga dapat mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar, dan bisa membantunya
dalam urusan agama dan dunianya; mendorongnya untuk melaksanakan kewajiban dan
menjauhi hal-hal yang diharamkan dan dimakruhkan? apakah itu shalat jasmani
tanpa ruh, badan tanpa hati, gerakan tanpa kekhusyukan, bentuk tanpa esensi,
kata-kata tanpa makna? Bukan! sama sekali bukan! Tetapi shalat Syar’iyah
nabawiyah yang dilaksanakan menurut rambu-rambu Alquran dan sunah Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Sesungguhnya shalat yang diserukan
Islam merupakan mi’raj ruhani bagi seorang mukmin. Karena ruhnya bisa
membawanya mi’raj ( naik ke langit ) setiap kali ia melaksanakan shalat kepada
Allah, baik shalat fardlu maupun shalat sunnah.
Ruhnya mengajaknya pindah dari alam materi menuju alam yang tinggi, jernih,
suci dan bersih. Di situlah sumber kebahagiaan dan ketenteraman.
Ikhwatal Islam! Setiap muslim pasti
mengetahui kedudukan shalat di dalam agama dan syariat Allah. Karena shalat
adalah tiang agama Islam dan garis pemisah antara kufur dan iman.Posisi shalat
dalam Islam seperti posisi kepala bagi tubuh. Bila manusia tidak bisa hidup
tanpa kepala, begitu pula agama tidak bisa wujud tanpa shalat. Nash-nash
syariat yang menerangkan hal itu sangat banyak. Jika masalahnya sedemikian
penting dan krusial maka satu hal yang sangat menyesakkan dada dan menyakitkan hati
ialah bahwa di antara orang-orang yang mengaku Islam masih ada orang-orang yang
hidup di tengah-tengah kaum muslimin, tetapi meremehkan dan menyepelekan
shalat. Bahkan terkadang lebih parah dari itu. Laa haula wala quata illa
billah!
Akankah mereka berhenti bersikap
seperti itu sebelum mereka ditimpa murka Allah, dikepung azab Allah, atau
dijemput maut?
Saudara-saudaraku yang rajin shalat!
berbahagialah dengan shalat. Bergembiralah bila Allah melapangkan dada anda
untuk melaksanakan kewajiban yang agung ini. Selamat buat anda yang akan
menerima balasan dan anugerah dari Allah, baik di dunia maupun di Akhirat.
Karena anda telah melaksanakan kewajiban agama yang agung ini.
Wahai orang-orang yang rajin shalat,
ketahuilah bahwa shalat yang diterima oleh Allah harus memenuhi syarat-syarat,
rukun-rukun, wajib-wajib, dan adab-adab tertentu. Di samping itu, banyak
masalah penting dan kesalahan yang berkembang luas seputar kewajiban ini yang
harus diketahui dan dipraktikkan oleh orang-orang yang shalat. Di dalam Musnad
Ahmad disebutkan:
“Orang yang paling buruk
pencuriannya ialah orang yang mencuri sebagian dari shalatnya.’’ (al-Musnad,
5:310 )
Yang dimaksud dengan mencuri di
dalam shalat ialah tidak menyempurnakan rukuknya, sujudnya dan khusyuknya.
Dan ada pula riwayat yang
menyebutkan, bahwa orang yang selesai shalat akan dicatat dari shalatnya
sebesar 25 persen, atau 20 persen, hingga 10 persen saja. ( HR. Ahmad, 4:321
dan Abu Daud, 796 )
Ini mengajak setiap muslim yang
melaksanakan shalat agar memperhatikan urusan shalatnya, supaya ia tidak
kehilangan pahala dan mendapatkan siksa.
Berikut ini adalah hal-hal singkat
yang perlu mendapat perhatian dalam masalah ini :
1. Bersuci secara lahir dan batin. Karena
bersuci adalah syarat besar bagi sahnya shalat. Dan shalat tidak sah tanpa
bersuci. Maka setiap orang yang menunaikan shalat harus memperhatikan dengan
sungguh-sungguh urusan bersuci dan wudlunya. Ia tidak boleh meremehkan hal itu.
Juga tidak boleh berlebihan dalam menyikapinya hingga sampai ke tingkat waswas.
Salah satu hal yang sangat disesalkan dalam soal ini yaitu sebagian orang awam
tidak memberikan perhatian secukupnya terhadap masalah wudlu dan bersuci.
Bahkan ada yang melakukan tayammum di dekat air atau sebenarnya bisa mencari
air. Ini adalah kecerobohan yang nyata.
2. Menghadap kiblat. Ini juga
termasuk syarat sah shalat yang penting. Orang yang berada di Masjidil Haram
harus menghadap ke arah Ka’bah secara tepat. Sebagian orang ternyata tidak
memahami masalah ini atau meremehkannya.
3. Menutup aurat. Ini juga termasuk
syarat sah shalat yang penting. Apa yang dilakukan sebagian orang yang teledor
dalam masalah ini seperti memakai pakaian yang transparan, atau celana ketat
yang bisa memperlihatkan warna kulitnya atau membedakan sifatnya adalah hal
yang perlu diperhatikan. Wanita di dalam shalat harus menutupi seluruh tubuhnya
kecuali wajahnya, jika berada di antara lelaki yang bukan mahramnya atau berada
di masjid yang berpotensi dilihat oleh kaum lelaki, maka kondisi semacam ini ia
wajib menutupi wajahnya. Dan ia harus datang ke masjid dengan pakaian yang
sederhana, tertutup rapat, tidak bersolek dan tidak memakai parfum, agar ia
bisa pulang ke rumahnya dengan membawa pahala, bukan dosa.
4. Memperhatikan kerapian shaf
(barisan). Dalam riwayat yang shahih disebutkan bahwa Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam merapikan sendiri barisan-barisan yang ada. Ada juga
riwayat yang menyebutkan bahwa beliau bersikap keras kepada orang yang tidak
memperhatikan hal itu. Dalam sebuah hadits Rasulullah shalallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda:
“Kalian benar-benar merapikan
barisan kalian, atau Allah benar-benar akan membuat wajah-wajah kalian
berselisih.’’ ( HR. Al-Bukhari, 717 dan Muslim, 436 )
5. Inti shalat dan ruhnya adalah
khusyu’. Allah berfirman :
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ
الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاَتِهِمْ خَاشِعُونَ
“Sesungguhnya beruntunglah
orang-orang yang beriman, ( Yaitu ) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.”
(QS. Al-Mukminun :1-2)
Di mana letak khusyu’nya orang-orang
yang melaksanakan shalat dengan perasaan malas, berat, tertekan, kesal, dan
ingin bebas dari kewajiban shalat? Di mana letak kekhusyu’an orang-orang yang
tidak fokus di dalam shalatnya? Shalat mereka hanyalah main-main, gerak-gerik,
tengak-tengok, miring kesana kemari, cepat-cepat dan tergesa-gesa. Hati mereka
berkeliaran di lembah, sementara akalnya merumput di tempat lain. Shalat
semacam ini adalah shalat yang bunting, tidak sempurna.
Maka setiap orang yang melaksanakan
shalat, harus menjaga kekhusyukan dan kehadiran hatinya secara terus-menerus.
Dan ia harus melakukan upaya-upaya yang bisa membantunya untuk itu, dan
mewaspadai hal-hal yang merusak kekhusyukannya.
Ayyuhal mushallun! Thumakninah
adalah salah satu rukun shalat yang tidak boleh ditinggalkan. Kini banyak orang
yang meremehkannya akibat lemahnya iman, dan tamaknya perasaan duniawi di dalam
jiwa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada orang yang
melaksanakan shalat secara buruk, karena tergesa-gesa dan tidak thuma’ninah.
“Kembalilah lalu shalatlah.
Karena sesungguhnya kamu belum shalat.’’ (HR. Al-Bukhari, 793 dan Muslim,
397 )
6. Yang juga perlu diperhatikan
ialah kewajiban mengikuti imam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :
“Sesungguhnya imam itu diadakan
untuk diikuti.” ( HR.Al-Bukhari,688 dan Muslim, 412 )
Jadi, makmum tidak boleh lebih maju
dari imam atau mendahului gerakan imam. Bahkan hal itu bisa menjadi penyebab
tertolak atau batalnya shalat. Ada riwayat yang berisi ancaman keras terhadap
orang yang berbuat seperti itu. Dalam hadits riwayat Abu Hurairah radiyallahu
‘anhu yang disepakati keshahihannya oleh al-Bukhari dan Muslim dinyatakan
bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Tidaklah salah seorang di antara
kamu merasa takut apabila ia mengangkat kepalanya sebelum imam bahwa Allah akan
menjadikan kepalanya sebagai kepala keledai atau menjadikan wujudnya sebagai
wujud keledai?!” (HR. al-Bukhari, 691,dan Muslim, 427 )
Imam Ahmad rahimahullah
berkata : “Tidak sah shalat orang yang mendahului imamnya.”
Perkara yang demikian gawat dan
sangsinya seperti itu seharusnya mendapat perhatian yang serius dari setiap
orang yang melaksanakan shalat. Jangan sampai ia dijerumuskan oleh setan yang
ingin merusak shalatnya. Dan kondisi rill para makmum dalam kaitan ini sangat
memperhatinkan dan menyedihkan. Allahul Musta’an .
Ibadallah! Bertakwalah kepada Allah
dalam urusan kita pada umumnya dan shalat kita pada khususnya. Karena bagian
yang diperoleh seseorang dari Islam setara dengan kadar bagiannya dan dari
shalat. Kini, marilah kita berfikir tentang kondisi kita sendiri. Apa yang akan
kita peroleh bila kita meremehkan seluruh syi’ar Islam, terutama shalat?
Sesungguhnya umat yang orang-orangnya tidak mau berdiri di hadapan Allah dalam
shalat untuk meminta anugerah dan kebaikan dari-Nya, benar-benar pantas untuk
tidak mampu berdiri kokoh pada momen-momen kebaikan, persatuan, kemenangan dan
kekuatan. Karena semua itu hanya bisa datang dari Allah semata. Maka, apabila
kita memperbaiki hubungan kita dengan Allah, niscaya Allah akan memperbaiki
hubungan kita dengan sesama manusia.
Sesungguhnya kehancuran dan
kemunduran peradaban yang terjadi di berbagai belahan bumi, berpangkal pada
kejatuhan anak-anaknya di lembah-lembah pelanggaran hukum dan keengganan
melaksanakan kewajiban yang paling wajib, yaitu shalat.
Hanya Allahlah yang pantas kita
minta untuk memperbaiki kondisi umat Islam di mana saja, memberi mereka
pemahaman yang benar tentang agamanya. Dan menjadikan mereka sebagai
orang-orang yang teguh menjaga syi’ar-syi’ar agamanya, menghormatinya, dan
menegakkan tiangnya dengan sebaik-baiknya. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi
Maha Mulia.
بارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ
رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ
وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ
لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اَللَّهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ
Amma ba’du :
Bertakwalah kepada Allah.
Bersungguh-sungguhlah dalam mendirikan shalat anda. Karena shalat adalah cahaya
anda di muka bumi dan simpanan anda di atas langit. Siapa pun yang mencermati
ayat-ayat Alquran pasti akan menemukan bahwa perintah-perintah shalat selalu
datang dengan redaksi, “iqamah” (mendirikan). Redaksi ini mengandung makna
lebih dari sekedar “ada” (melaksanakan). Karena iqamah (mendirikan) berarti
melaksanakan secara sempurna dan penuh perhatian.
Sesungguhnya tanggung jawab
orang-orang yang shalat benar-benar besar. Baik terhadap dirinya sendiri dalam
bentuk perhatian yang sungguh-sungguh, maupun terhadap orang lain, seperti
kenalan, kerabat, anak dan tetangga dalam bentuk penyampaian perintah dan
nasihat kepada mereka tentang masalah yang sangat penting ini. Para imam masjid
juga memiliki peran yang besar, karena mereka memikul tugas yang paling besar.
Maka mereka harus melaksanakan tugas itu dengan cara memberikan perhatian yang
serius terhadap shalat dan memberikan pemahaman tentang hukum-hukum dan
hikmahnya sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
Juga harus ada kerjasama antara para
imam dan para makmum. Di mana masing-masing melaksanakan misinya untuk mewujudkan
hasil-hasil yang diharapkan, dengan izin Allah.
Tinggal satu catatan penting dalam
masalah ini, yaitu masalah-masalah yang longgar dan menjadi obyek perbedaan
pendapat di antara para ulama besar, terutama masalah-masalah yang disunnahkan
atau dianjurkan. Hal itu sama sekali tidak patut menjadi pemicu perpecahan,
perseteruan, dan permusuhan di antara sesama muslim. Juga tidak patut disikapi
dengan keras atau ditolak dengan tegas. Hal ini tidak bertentangan dengan
komitmen terhadap sunah.
Ibadallah! Bertakwalah kepada Allah
dan pahamilah hukum-hukum agama Anda secara mendalam.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى
آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ وَبارٍكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد كَمَا
بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى ألِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءُ مِنْهُمْ
وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبٌ الدَعَوَاتِ وَيَآ قَاضِيَ
الحَاجَاتِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اللهم إِنَّا
نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اللهم إِنَّا نَعُوْذُ
بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ
وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ. وَآخِرُ دَعْوَانَا
أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ. وَصَلى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ.
Reffrensi:
Al-Qur'an